Oleh
: Ida Farida Ch
Larutan penyangga sangat penting dalam
kehidupan, terutama dalam pengaturan pH pada sistim biologi.
Komponen Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat berupa;
1) larutan penyangga asam, komponennya : asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-)
2) larutan penyangga basa, komponennya : basa lemah (B) dan asam konjugatnya (BH+).
Secara makroskopik terdapat perbedaan yang nyata antara larutan yang hanya mengandung asam lemah (HA) dengan larutan penyangga dengan komponen asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-) , meskipun spesi-spesi utama yang terkandung dalam ke dua larutan itu sama.
Prinsip Kerja Larutan Penyangga
Komponen Larutan Penyangga
Larutan penyangga dapat berupa;
1) larutan penyangga asam, komponennya : asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-)
2) larutan penyangga basa, komponennya : basa lemah (B) dan asam konjugatnya (BH+).
Secara makroskopik terdapat perbedaan yang nyata antara larutan yang hanya mengandung asam lemah (HA) dengan larutan penyangga dengan komponen asam lemah (HA) dan basa konjugatnya (A-) , meskipun spesi-spesi utama yang terkandung dalam ke dua larutan itu sama.
Prinsip Kerja Larutan Penyangga
Cara kerja larutan penyangga dapat dijelaskan dengan melalui fenomena yang
dikenal sebagai pengaruh ion senama atau common-ion effect (Silberberg,
2009 ; Mc Murry & Fay, 2012).
Contohnya : pengaruh ion senama yang terjadi ketika ke dalam asam asetat yang terdisosiasi dalam air ditambahkan sejumlah natrium asetat.
Contohnya : pengaruh ion senama yang terjadi ketika ke dalam asam asetat yang terdisosiasi dalam air ditambahkan sejumlah natrium asetat.
Asam asetat hanya sedikit
terdisosiasi dalam air, seperti dinyatakan dalam persamaan berikut ini : CH3COOH
(aq) + H2O (l)⇄ CH3COO- (aq) +
H3O+ (aq)
Natrium asetat menyuplai
ion senama, yaitu ion CH3COO- ke dalam sistem kesetimbangan tersebut. Penambahan
ion senama CH3COO- akan
menggeser posisi kesetimbangan ke arah pembentukan kembali reaktan (ke kiri),
sedangkan konsentrasi ion H3O+ menurun, sebagai efek
untuk menurunkan terjadinya disosiasi
asam.
Hal yang sama terjadi, jika sejumlah asam asetat dilarutkan dalam larutan natrium asetat (atau ion asetat dan ion H3O+ dari asam asetat masuk ke dalam larutan garam natrium asetat). Ion-ion asetat yang sudah ada dalam larutan bertindak menekan disosiasi asam sehingga disosiasinya menjadi tak sebanyak bila dalam air murni, akibatnya konsentrasi ion H3O+ dalam larutan tetap rendah (pH tinggi). Efek menurunkan atau ‘menekan’ terjadinya disosiasi asam asetat oleh ion asetat yang ditambahkan itulah yang disebut dengan pengaruh ion senama (common ion effect).
Berikut ini diagram yang menjelaskan pengaruh ion senama terhadap kesetimbangan disosiasi asam asetat.
Hal yang sama terjadi, jika sejumlah asam asetat dilarutkan dalam larutan natrium asetat (atau ion asetat dan ion H3O+ dari asam asetat masuk ke dalam larutan garam natrium asetat). Ion-ion asetat yang sudah ada dalam larutan bertindak menekan disosiasi asam sehingga disosiasinya menjadi tak sebanyak bila dalam air murni, akibatnya konsentrasi ion H3O+ dalam larutan tetap rendah (pH tinggi). Efek menurunkan atau ‘menekan’ terjadinya disosiasi asam asetat oleh ion asetat yang ditambahkan itulah yang disebut dengan pengaruh ion senama (common ion effect).
Berikut ini diagram yang menjelaskan pengaruh ion senama terhadap kesetimbangan disosiasi asam asetat.
Bila larutan penyangga ditambahkan sedikit asam kuat ataupun basa kuat (ion H3O+ atau OH-), pH larutan cenderung tidak mengalami perubahan, hingga kapasitas penyangga tertentu. Pengaruh penambahan ion H3O+ atau ion OH- digambarkan melalui diagram berikut ini :
Gambar . Representasi submikroskopik
dan simbolik cara kerja larutan penyangga (diadaptasi dari Silberberg, 2009)
Kapasitas Penyangga
Kemampuan larutan penyangga untuk tetap dapat mempertahankan
pH disebut kapasitas larutan penyangga. Kemampuan ini tergantung pada harga pKa dan jumlah molar
relatif dari pasangan asam-basa konjugat. Penting untuk diperhatikan bahwa pH
larutan penyangga berbeda dengan kapasitas penyangga. Suatu larutan penyangga
yang dibuat dari volume yang sama 1,0 M CH3COOH dan 1,0 M
CH3COO-
memiliki pH yang sama, yaitu 4,7
dengan larutan penyangga yang dibuat dari volume yang sama 0,1 M CH3COOH
dan 0,1 M CH3COO-. Namun larutan penyangga yang
lebih pekat memiliki kapasitas penyangga yang lebih besar.
Kapasitas penyangga
dipengaruhi oleh konsentrasi relatif dari komponen penyangga. Suatu larutan penyangga paling efektif jika perbandingan
konsentrasi asam lemah dan basa konjugat = 1.
Larutan penyangga dapat efektif
pada rasio konsentrasi asam-basa berada pada kisaran: 0,1 < [basa
konjugat]:[asam] < 10.
Dengan menggunakan persamaan Henderson-Hasselbalch dapat dihitung pH maksimum dan
minimum yaitu pada kisaran pH = pKa ± 1.
pH = pKa + log [basa konjugat]/[asam lemah]
Jadi ketika memilih suatu
asam untuk membuat larutan penyangga, maka dipilih salah satu asam yang memiliki
harga pKa mendekati pH yang diinginkan.
Perhitungan pH larutan Penyangga digambarkan dalam diagram berikut ini :




Posting Komentar